Masjid Qiblatain

Mesjid Qiblatain ini terletak diatas sebuah bukit kecil di utara Harrah Wabrah, Madinah. Pada suatu hari Nabi melakukan ta’ziyah dirumah Ny. Ummitsyar di kampung Salamah.
Kehadiran Nabi sangatlah menyenangkan hati sang nyonya  yang baru saja menguburkan salah satu putranya itu, lalu ia masak khusus dengan menyembelih seekor kambing dan mengundang Nabi makan dirumah itu. Ketika datang sholat zuhur itulah datang wahyu untuk merubah qiblat.
Perubahan qiblat dari Baitul Maqdis ke Masjidil Haram terjadi pada bulan Rajab 12H. Ketika Rasulullah melakukan sholat zuhur dengan menghadap kearah Masjidil Aqsa. Namun baru saja nabi menyelesaikan rakaaat ke dua, tiba-tiba datang wahyu Allah melalui Malaikat Jibril yang memerintahkan Nabi agar arah kiblat dipindahkan dari Masjidil Aqsa di Palestina ke Masjidil Haram di Saudi Arabia. Maka segera nabi menghentikan sholatnya lalu bersama jamaah berputar  menghadap arah baru sehingga jamaah terpaksa jalan memutar agar tetap berada dibelakang Nabi.
Jadi dalam melaksanakan satu sholat zuhur itu nabi melakukan dua kiblat, 2 rakaat ke Masjidil Aqsa dan 2 rakaat ke Masjidil Haram.
Adapun bunyi wahyu yang diturunkan Allah untuk merubah kiblat sholat tersebut berbunyi :
“Sungguh kami sering melihat mukamu click here menengadah ke langit, maka sungguh kami akan memalingkan Kamu ke kiblat yng kamu sukai. Palingkanlah mukamu kearah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu kearahnya.
Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi alkitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Allahnya, dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan “. (Al Baqarah : 144)
Kemudian Rasulullah melanjutkan sholat dengan memindahkan kiblat kearah Ka’bah di Masjidil Haram, Mekkah berdasarkan peristiwa tersebut, maka masjid ini diberi nama Masjid Qiblatain yang berarti mesjid berkiblat dua.SUMUR RAUMAH, didekat itu terdapat telaga yang diberi nama Sumur Raumah, kepunyaan seorang Yahudi, karena sumber air itu penting fungsinya bagi sebuah masjid, atas anjuran Rasulullah maka Usman bin Affan menebus telaga itu dari pemiliknya seharga 20.000 dirham dan menjadikannya sebagai wakaf. Sampai saat ini, telaga tersebut masih mengairi taman-taman disekelilingnya.
Masjid Qiblatain mengalami beberapa kali pemugaran, di antaranya pemugaran atap pada tahun 893 H oleh Sultan Sulaiman. Pemerintah kerajaan Arab Saudi sekarang juga mengadakan perluasan dan pembangunan konstruksi baru, dengan tetap mempertahankan  pada kedua mihrab yang menjadi ciri  khasnya.